Mengenai Saya

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia

Minggu, 28 Oktober 2012

Jiwa Sosial

Mengasah Jiwa Sosial


Mempunyai anak yang memiliki jiwa sosial yang tinggi adalah keinginan setiap orang tua. Apalagi jika kalau dia memiliki karakter yang empati terhadap sesamanya yang kurang beruntung. Bagaimana mengasah jiwa sosial anak?

Untuk mendapatkan karakter positif anak atau seseorang, butuh proses yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten.  mengajarkan anak mampu bersikap empati terhadap sesama dimulai dari lingkungan keluarga.

Dan harus dilakukan sejak dia masih kecil. Misalnya dalam keluarga, anak yang dibiasakan melakukan salat berjemaah sehari-hari.

Ketika salat berjemaah itu, sebenarnya mulai mengakar sikap saling tolong menolong. Misalnya anak yang satu disuruh azan, yang lainnya mengatur sajadah. Kerja sama ini dibina melalui salat berjemaah.

 Anak juga dibiasakan melakukan pekerjaan rumah sehari-hari seperti menyapu dan mengepel rumah. Sekaligus membantu sang ibu tercinta mengatasi pekerjaan rumah tangga.

 "Otomatis anak melihat dan mau membantu. Nah, kalau cikal bakalnya dalam rumah tangga bentuk kepedulian itu terwujud, maka mudah disalurkan ke luar rumah,”

 Dan juga kita aktif membawa para buah hatinya ke masjid. Ketika sang ayah azan di masjid, mereka belajar azan juga. Ataupun turut dengan teman-teman lainnya di masjid untuk mengaji bersama.

 Kalau di masjid kan juga ada kotak amal, kita harus memberikan contoh kepada mereka untuk belajar menyumbang atau pun kepada orang-orang cacat di pinggir jalan.

Perilaku mengajarkan anak berbagi dengan bentuk sumbangan juga bagus dilakukan.
Memberikan sumbangan dari panti asuhan maupun masjid. “Orang tua bisa memberi uang kepada anak dan si anak itu yang masukkan ke dalam amplop uang sumbangannya dengan memberikan pengertian bahwa uang itu nantinya digunakan untuk saling membantu.

Kalo hal tersebut di lakukan atau ditanamkan maka akan tercipta anak atau generasi muda yang baik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar